Kemiringan
lereng (slope) adalah kenampakan permukan alam yang disebabkan oleh adanya
perbedaan ketinggian antar dua tempat. Kemiringan lereng menunjukkan besarnya
sudut yang terbentuk dari perbedaan ketinggian sebuah bentang alam, yang
biasanya disajikan dalam satuan persentase atau derajat. Untuk daerah yang relatif
datar (flat) biasanya memiliki nilai kemiringan lereng yang kecil, sedangkan
untuk daerah yang berupa dataran tinggi terjal memiliki nilai kemiringan lereng
yang tinggi. Kemiringan lereng terjadi karena adanya perubahan permukaan bumi
di berbagai tempat yang disebabkan oleh daya-daya eksogen dan gaya-gaya endogen
yang terjadi sehingga mengakibatkan perbedaan letak ketinggian titik-titik di
atas permukaan bumi.
Kemiringan
lereng merupakan salah satu faktor pemicu terjadinya erosi yang dipengaruhi
oleh runoff. Semakin curam sebuah lereng maka semakin besar pula laju dan
jumlah aliran permukaan yang terjadi sehingga mengakibatkan kemungkinan erosi
yang besar bahkan dapat memicu terjadinya tanah longsor (land slide). Peta
kemiringan lereng merupakan peta yang digunakan untuk melihat tingkat
kemiringan tanah secara garis besar. Peta kemiringan lereng digunakan untuk
mengidentifikasikan lokasi-lokasi yang dinilai rawan terhadap terjadinya
bencana tanah longsor.
Pembuatan
peta kemiringan lereng mengunakan software ArcGIS 10.8 serta mengacu kepada
beberapa sumber dan pedoman antara lain, Data DEMNAS Wilayah Kecamatan Aru Selatan
yang didapatkan di situs (tanahair.indonesia.go.id), selanjutnya Peta Rupa Bumi
Indonesia Kabupaten Kepulauan Aru, Batas Desa Maret 2020, Batas Kabupaten Kota
dan Provinsi Desember 2019 DUKCAPIL, serta Klasifikasi Kemiringan Lereng
berdasarkan Pedoman Penyusunan Pola Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah
tahun 1986.
Kemiringan Desa Ngaiguli didominasi oleh kemiringan 0-8% atau wilayah dengan kategori Datar, kemiringan 8-15% atau wilayah dengan kategori landau serta kemiringan 15-25% atau wilayah dengan ketegori Agak curam . Meskipun begitu, wilayah di pesisir pantai dan pertengahan kawasan administrasi memiliki kemiringan yang cukup beragam yakni mulai dari kemiringan 25% (Curam), hingga kemiringan >45% (Sangat Curam). Selain itu, kemiringan >45% (Sangat Curam) juga ditemukan di berbagai tempat yakni dekat pesisr pantai dan pertengahan Kawasan administrasi.
Antisipasi Bencana Tanah Longsor.
Bencana tanah longsor terjadi karena adanya ketidakstabilan tanah atau batuan suatu lereng. Tanah yang labil dan tidak memiliki pohon sebagai tumpuan alami dapat mengalami pergeseran sehingga menyebabkan tanah longsor. Adapun cara untuk mengantisipasi terjadinya kelongsoran dapat dilakukan dengan berbagai hal berikut. Tidak Membangun Rumah Di Bawah Tebing, Masyarakat perlu mengetahui bagaimana bahaya dan resiko membangun rumah persis di bawah lereng atau tebing. Menghindari Mendirikan Bangunan Di Atas Tebing, Bangunan di atas bukit dapat memicu terjadinya longsor karena ada penekanan tanah yang dilakukan oleh bangunan tersebut. Jangan Menebang Pohon Di Lereng Pohon memiliki akar yang dapat menyerap air dan menyimpannya ke dalam akar. Menebang pohon akan merusak struktur tanah yang dapat memicu kelongsoran. Menghindari Membuat Sawah Baru Atau Kolam Pada Lereng Yang Terjal Persawahan minim akan adanya pepohonan besar dan tanah persawahan bertekstur gembur sehingga mengakibatkan tanah mudah bergerak Membangun Dinding Penahan Tanah (Retaining Wall) Dinding penahan tanah dibangun untuk menahan geseran tanah yang permukaannya tidak rata, supaya tidak menyebabkan longsornya tanah dari permukaan yang lebih tinggi ke permukaan yang lebih rendah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar